Maret 30 2018

PERSPEKTIF SIKLUS HIDUP DALAM ISO 14001:2015

Posted by Bovi in Artikel 2067 Pembaca
  • Sumber : Linda Saraswati Iskandar (Praktisi PT Mutiara Mutu Sertifikasi)

Istilah "siklus hidup" bukanlah hal yang baru bagi sebagian besar perusahaan, tetapi penggunaan istilah "Life Cycle Perspektif" (LCP) di ISO 14001: 2015 adalah salah satu perubahan besar dalam revisi terbaru. Saat perusahan melakukan transisi ke revisi 2015 maka harus berpikir dengan seksama tentang bagaimana menggunakan perspektif siklus hidup.

Dalan pasal apa saja LCP dapat diterapkan? 

6.1.2 Environmental aspects

“Within the defined scope of the environmental management system, the organization shall determine the environmental aspects of its activities, products and services that it can control and those that it can influence, and their associated environmental impacts, considering a life cycle perspective”

Versi sebelumnya dari 14001 (2004) siklus hidup hanya disebutkan sekali dalam bagian ANNEX. Namun pada versi 2015, istilah Siklus hidup muncul 18 kali, 7 istilah berhubungan dengan konsep perspektif. 

ISO 14001:2015 secara eksplisit tidak menentukan seperti apa bentuk implementasi LCP dan hanya memberikan definisi LCP di Bab 3 yaitu "Consecutive and interlinked stages of a product (or service) system, from raw material acquisition or generation from natural resources to final disposal" Note 1 to entry: The life cycle stages include acquisition of raw materials, design, production, transportation/delivery, use, end-of-life treatment and final disposal.

Nah setiap saya memberikan Training Pertanyaan utama dari peserta antara lain :

  1. Bagaimana perusahaan harus menggunakan perspektif siklus hidup ketika merencanakan Sistem Manajemen Lingkungan ?
  2. seperti apa bukti yang diharapkan oleh auditor untuk mengkonfirmasi bahwa perspektif siklus hidup telah digunakan Klien dalam perencanaan SML

 

JAWABAN KE 1

Gunakan perspektif siklus hidup dalam fase PERENCANAAN Sistem Manajemen Lingkungan (CLAUSE 6)

Life Cycle Perspektif adalah Pendekatan sistematis untuk pengelolaan lingkungan yang dapat bermanfaat sebagai informasi bagi manajemen puncak dalam untuk sukses dalam kinerja lingkungan jangka panjang (SUSTAINIBILITY) dan membuat pilihan untuk berkontribusi terhadap pembangunan berkelanjutan dengan mengontrol atau mempengaruhi cara produk dan jasa organisasi dirancang, diproduksi, didistribusikan, dikonsumsi dan dibuang oleh customer produk kita.

Menggunakan perspektif siklus hidup berarti mencegah dampak lingkungan dari yang tidak sengaja bergeser masuk ke dalam siklus hidup. Sehingga untuk melakukan ini, Perusahaan perlu untuk memperluas pandangan mereka tentang dampak yang berasal dari produk dan layanan mereka di luar garis pagar Perusahaan.

Perusahaan perlu mencari tahu rantai pasokan bahan baku untuk memahami dampak lingkungan yang disebabkan oleh para pemasok mereka dan bagaimana cara pemasok melakukan proses penyediaan barang kepada kita.

Dengan demikian, Perusahaan dapat mengidentifikasi dampak lingkungan yang mereka sebelumnya tidak menyadari. Dari informasi baru ini Persahaan dapat mempertimbangkan apa pengendalian atau pengaruh yang mereka miliki atas dampak lingkungan yang terjadi di rantai pasokan tersebut.

contoh : 

  1. Sebuah perusahaan sepatu terkenal saat melaunching hasil New Product Development diharuskan memilih perusahaan subkon maka yang akan memproduksi desain baru. Dan ternyata setelah mass production ada beberapa subkon yang membutuhkan pemakaian listrik dan air lebih tinggi dalam produksi 1 pasang sepatu.
  2. ada juga perusahaan Oil&Gas dengan mengidentifikasi adanya dampak lingkungan berupa pencemaran air & tanah akibat ceceran baham kimia karena kendaraan pengangkut dari supplier mengalami kecelakaan dijalan 

Perusahaan juga perlu mengidentifikasi dampak lingkungan yang berasal dari penggunaan produk atau jasa mereka oleh pelanggan mereka atau oleh pengguna akhir (End User).

Perusahaan perlu untuk mengevaluasi kemampuan mereka untuk mengontrol atau mempengaruhi dampak tersebut .

misal : Perusahaan Produsen Celana Jeans merk terkenal mengidentifikasi bahwa ada dampak lingkungan pencemaran tanah jika produk yang ia produksi cepat rusak maka akan menjadi sampah padat.

Oke langkah kedua setelah identifikasi aspek dampak dari rantai pasokan dan yang bebrasal dari penggunaan produk akhir Produk, Perusahaan harus berusaha untuk mengatasi aspek lingkungan atau dengan kata lain PENGENDALIAN OPERASIONAL

ISO 14001:2015 sudah memberi acuan bahwa Perusahaan dapat memilih untuk menangani aspek-aspek siklus hidup ini tergantung pada beberapa faktor termasuk:

  • tingkat risiko aspek terhadap organisasi
  • tingkat risiko aspek terhadap lingkungan
  • tingkat pengaruh organisasi dalam mengendalikan beberapa aspek
  • Seberapa besar jumlah Pengendalian Organisasi terhadap aspek siklus hidup tergantung pada Seberapa jauh rantai pasokan aspek siklus hidup (baik dari penyediaan bahan baku maupun pembuangan)
  • Bagaimana perubahan desain akan mempengaruhi kinerja atau biaya produk
  • Siapa yang mengontrol desain produk atau jasa

Perusahaan juga harus menggunakan perspektif siklus hidup ketika mereka meninjau potensi aspek & dampak lingkungan dari proses outsourcing yang dilakukan oleh perusahaan lain atas namanya.

 

Contoh Implementasi Pengendalian LCP : 

  1. Dari cerita Perusahaan Produsen Celana Jeans merk terkenal tadi maka pengendalian yang mereka lakikan atas dampak pencemaraan tanah akibat aspek celana jeans produk mereka yang cepat rusak karena kesalahan proses pencucian / setrika oleh End User maka saat ini menggunakan banyak label di bagian dalam celana bukan hanya untuk ukuran celana namun ada tambahan label sebagai informasi cara pencucian dan aetrika. Tujuannya adalah agarcelana jeans awet. Pemikiran ini didasari oleh komitmen peruaahaan tersebut dalam perlindungan lingkungan dimana jika celana cepat rusak makan akan menjadi sampah padat.
  2. Dari cerita perusahaan sepatu merk terkenal diatas, maka saat ini departemen Production Planning memberikan jatah produksi untuk new product development yang baru dilaunching kepada subkon mereka berdasarkan kinerja lingkungan yaitu yang melakukan penghematan pemakaian listrik & air terbanyak.
  3. Dari cerita perusahaan oil& gas diatas maka dengan mengidentifikasi asa aspek ceceran akibat kesalaham kendaraan ekspedisi pengangkut bahan kimia maka perusahaan saat ini menerapkan persyaratan pembelian yang mengisntruksikan agar kendaraan yang memasok bahan kimia kendaraan nya wajib mengikuti aturan dari Kemenhub misal Pengemudi wajib memiliki kompetensi terkait B3 sehingga dampak ada nya tumpahan b3 saat proses pengangkutan dapat dicegah

JAWABAN KE 2 

Bukti dari Life Cycle Perspektif Selama Audit

Membuktikan kepada auditor terkait perspektif siklus hidup yang digunakan untuk mengidentifikasi aspek lingkungan mungkin lebih sulit dari pada mengimplementasikan perspektif siklus hidup. Berdasarkan pengalaman awal dengan sertifikasi ISO 14001 2015 jelas bahwa BADAN SERTIFIKASI Belum mencapai konsensus tentang apa dan berapa banyak bukti yang diperlukan untuk menunjukkan kesesuaian dengan persyaratan perspektif siklus hidup. 

Sehingga dari diskusi para ahli sistem manajemen lingkungan kemungkinan akan terjadi banyak Gap antara lembaga sertifikasi dan auditor praktisi di perusahaan tentang apa bukti yang dapat diterima sebagai "kesesuaian" persyaratan LCP. 

Saran saya sebagai Auditor & juga Konsultan (tidak dalam 1 instansi) sebaiknya Perusahaan melakukan diskusi terlebih dahulu di depan dengan auditor sebelum Tahap 1 sehingga perusahaan memberi waktu bagi auditor Badan Sertifikasi untuk melakukan pemeriksaan tentang bukfi bukti apa saha yang perlu dikumpulkan bahwa LCP telah digunakan dalam penerapan Sistem Manajemen Lingkungan di Perusahaan.

sumber : www. iso.org & wikipedia